logo


Perasaan apa yang muncul tatkala melihat Pak Ponali yang menderita stroke selama 3 tahun, terbaring di tempat tidur, dan tak mampu berobat?

Perasaan apa yang muncul ketika melihat 2 anak Bu Muna meninggal dunia karena diare dan tak mampu berobat?

Perasaan apa yang muncul ketika melihat Awalun Nikma, seorang anak yatim piatu yang mengalami patah tulang paha dan tak mampu berobat?

Ingin menolong dan membantu bukan? Tapi tanyakan pada diri kita, seberapa sering kita membiarkan perasaan itu berlalu begitu saja.

Itu semua memotivasi kami melahirkan Homedika.com





Homedika.com adalah wirausaha sosial berbasis teknologi yang menghubungkan tenaga medis dengan masyarakat untuk memberikan berbagai layanan kesehatan.


Making Indonesian health Integrated, Connected, and Collaborated



1. Membangun hubungan esensial dalam pelayanan kesehatan antara tenaga medis dengan pasien.
2. Menghubungkan tenaga medis dengan pasien untuk memberikan berbagai layanan kesehatan
3. Memberikan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan
4. Mengubah budaya dan ekosistem pelayanan kesehatan melalui optimalisasi penggunaan teknologi digital
5. Meningkatkan peran, produktivitas, dan kebermanfaatan tenaga kesehatan yang kompetitif, berkualifikasi, berkompeten, dan berkualitas


1. Integrated
2. Connected
3. Collaborated


Open doors to health access (Membuka pintu akses kesehatan)




  • Pendapatan masyarakat Indonesia yang rendah
    Lebih dari 28 juta masyarakat hidup dibawah garis kemiskinan yaitu 17 USD per bulan dan setengah dari masyarakat Indonesia memiliki pendapatan di bawah 60 USD per bulan

  • Asuransi kesehatan yang terbatas
    Hanya 157.194.776 orang masyarakat Indonesia yang memiliki asuransi ksehatan. Sayangnya hanya 64% peserta yang membayarkan premi secara rutin berkala.Tingkat pembayaran peserta asuransi juga masih rendah, yaitu hanya 75%

  • Anggaran kesehatan tingkat rumah tangga
    Rumah tangga menghabiskan sekitar 2,1 persen dari total konsumsi mereka pada kesehatan, mulai dari sekitar 1,6 persen untuk desil termiskin dan 3,5 persen untuk terkaya, yang relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain dengan tingkat pendapatan yang sama.

  • Minimnya jumlah tenaga kesehatan
    Hal tersebut tampak dari data Kementrian Kesehatan terkait sumber daya pelayanan kesehatan di tahun 2016, dimana terdapat 108.752 dokter, 1.238 psikolog klinis, 214.447 perawat, 96.313 bidan, 31.904 farmasi, 41.181 ahli kesehatan komunitas, 12.897 ahli kesehatan linkungan, 14.881 ahli gizi, 5.165 terapis, 18.552 ahli teknisi kesehatan, dan 24.092 ahli teknik biomedik. Jumlah dokter adalah sekitar 3 dokter per 10.000 penduduk, setengah dari rata-rata regional. Sedangkan jumlah perawat dan bidang adalah 20 per 10.000 penduduk, dua kali rata-rata regional

  • Produktivitas tenaga kesehatan yang rendah
    Laporan WHO menunjukkan SDM pada bidang kesehatan di Indonesia memiliki tingkat produktivitas yang rendah

  • Jumlah layanan kesehatan yang terbatas
    Dari sisi hospital bed, jumlah tempat tidur rumah sakit jika dikomparasi dengan jumlah penduduk adalah 0,6 per 1.000 penduduk. Angka ini rendah jika dibandingkan dengan negara dengan populasi besar lain seperti china 3,56 per 1.000 penduduk, USA 3 per 1.000 penduduk, brazil 2,4 per 1.000 penduduk.









100
Tenaga Kesehatan
Relawan
Pasien
Kota